Install this theme
Pesawat yang Terbang Harus Bisa ‘Membenci’ Angin

Ya, aku tahu apa yang kalian pikirkan. Memang judul ini sengaja aku ambil mirip dengan salah satu novel karya Tere Liye. Tapi bukan berarti apa yang kutuliskan akan mirip (ataupun ada hubungannya) dengan novel tersebut. Karena saya sendiri belum pernah membacanya. :)

"Pesawat terbang tidak akan pernah bisa terbang megah di angkasa kalau tidak melawan arah angin."

Kalimat itu selalu kuucapkan pada setiap orang yang sedang menghadapi suatu masalah, dan datang bercerita padaku. Ingat tulisanku “Gravity”? Mari kita coba patahkan teori yang kutuliskan sendiri waktu itu.

Dalam hidup, manusia akan selalu dihadapkan dengan hal yang bernama “Takdir”, dan “Pilihan”. Keduanya akan selalu terkoneksikan dan tak akan pernah mungkin bisa diputuskan. Mengapa? Takdirmu akan selalu ditentukan oleh pilihanmu, pun sebaliknya.

Lantas, apa hubungannya dengan judul maupun ‘quote’ tersebut? Dalam satu waktu dalam hidup ini, siapapun pasti pernah mengalami keputusan paling sulit dalam menghadapi suatu pilihan. Keputusan yang mungkin paling pahit untuk bisa diterima kenyataannya, atau mungkin tidak berjalan sesuai dengan apa yang awalnya terbayangkan. Dan ini pasti terjadi. Pertanyaannya, bagaimanakah seseorang harus menghadapinya? Sederhana, hanya ada 2 pilihan. Pertama, tinggalkan saat itu juga dan kamu akan terbebas dari beban itu, namun kamu harus memikul perasaan bersalah karena tidak pernah menyelesaikannya. Atau kedua, hadapi sampai selesai, betapa berat dan tidak mungkinnya hal itu untuk diselesaikan. Untuk saat ini saya tidak akan menyebutkan mana solusi yang benar dan mana yang salah, individual masing-masing lah yang dapat menentukannya. Sekali lagi, ini adalah suatu pilihan.

Aku ingin sedikit memberi gambaran, bercerita lebih tepatnya, yang sebenarnya merupakan kisah hidupku sendiri. Senin (17/3) lalu, ada sedikit perayaan ‘kejutan’ untuk 2 adik angkatanku di Dept. SosMas BEM KMFT UGM. Karena saat itu aku baru saja selesai rapat, dan lewat salah seorang adik angkatanku disana, maka diajaklah aku untuk turut ‘menyambut’nya. Dan sepulangnya dari sana, ada satu hal yang terlintas dalam benakku, “Sudah hampir 2 tahun mereka bertahan disana, dan keakraban mereka masih juga sama seperti dulu.”. Aku merasa sedih dan senang dalam waktu yang bersamaan. Aku berpikir, seandainya ketika angkatanku bisa seperti mereka, mungkin akan asik, mungkin akan terasa mudah ketika menjalankan tugas semasa menjadi Pengurus Harian SosMas dulu karena banyak yang menemani. Namun aku bersyukur, mungkin usaha keras yang dulu kukerjakan, begitu beratnya sampai terkadang harus berjuang seorang diri, yang seringkali karena tidak sepaham dengan KaDept, untuk mereka tidak berujung begitu sia-sia.

Kemudian yang kedua ini aku akan membahas tentang percakapanku bersama dengan seseorang sore kemarin (19/3), yang mungkin akan lebih mengarah ke pilihan ke-2: “hadapi sampai selesai”. Beliau adalah ex-KaDept SosMas BEM KMFT UGM periode 2011. Dan pertemuanku dengannya benar-benar murni ‘coincidence’. Entahlah, mungkin Tuhan memang memiliki caranya sendiri untuk memberi petunjuk bagi hamba-Nya yang membutuhkan. Kami membicarakan banyak hal, yang pada intinya adalah bagaimana aku harus melanjutkan jalanku pada sebuah organisasi yang aku rasa aku telah salah mengambil keputusan didalamnya. Satu hal yang kupelajari adalah, ketika kamu memang merasa tidak mau, ataupun tidak yakin terhadap apa yang ‘menghampirimu’, janganlah takut untuk berkata ‘Tidak’. Janganlah malu untuk menolaknya, seberapa besar mereka memohon kepadamu dan seberapa berartinya kamu bagi mereka. Selama kamu tidak yakin, kamu masih memiliki hak untuk menolaknya. Lantas bagaimana jika sudah terlanjur mengatakan ‘ya’ namun ditengah jalan engkau lelah menjalaninya dan sekilas ‘flashback’ akan momen-momen disaat dulu engkau mengambil keputusan tersebut dan menyesal tidak mengatakan ‘tidak’ waktu itu? Jalani saja! Jangan jadi pengecut! Bertanggungjawablah dengan apa yang sudah kau janjikan untuk mereka, selesaikan apa yang menjadi kewajibanmu sampai selesai. Dan seandainya engkau memang memiliki tujuan sendiri mengapa engkau mengambil keputusan itu, ingatlah kembali tujuan luhur itu, dan selesaikan masalah yang sedang mengganjalmu saat ini, bukan dilupakan. Ingat lagi, tentang mereka yang betapa mereka membutuhkanmu disana. Dan jika mereka yang sudah melupakan nilai itu, ingatkan mereka, dengan cara yang lembut, tanpa menimbulkan perpecahan.

Jangan pernah menyesal dengan apa yang menjadi keputusanmu. Jangan pernah menyesal dengan apa yang tidak menjadi keputusanmu. Namun menyesallah, jika kamu tidak dapat mengambil nilai apapun dari hasil keputusanmu.

The Hero Within You

Today, too, your trailing tears become stars 
that watch over you quietly. 
Softly, you embraced the universe 
that’s being passed down to the next era.

At the bottom of your endless pain, 
a faint hope, moving restlessly, 
points for you the path you should take and guides you.

The hero within you will awaken the same you from the future. 
You break a world, become reborn, and after you’re reborn, you return again. 
With ceaseless evolution, you keep changing repeatedly. 
Do not fear! Even if light has been lost, our thoughts will be connected. 

Until the day when I can meet your smile…

Today, too, people are incarcerated by the justice they have believed in.While people are wandering lost, 
although they have regrets, they keep going forward. 
Someday they will reach their destination.

Your pure-white glittering heartbeats, 
barely staying lit in the darkness, 
will transcend your wishes and become powerful gazes.

The destiny you shoulder will awaken your memories of the past. 
The cries of the sorrows of your permanent scars are echoing. 
Your soul, still thriving, bestows your duties upon you. 
Carry them through, those thoughts not to be handed over to anyone else! 
Without giving up, let’s head for the goal.

With your willpower, you’ll be able to fly. 
Don’t forget about tender gentleness. 
Towards a faraway and endless star, 
carry your thoughts through! Don’t give up.

The hero within you will awaken the same you from the future. 
You break a world, become reborn, and after you’re reborn, you return again. 
With ceaseless evolution, you keep changing repeatedly. 
Do not fear! Even if light has been lost, with my very own hands.
I will protect you.

Until the day when I can meet your smile…

Cinta tak pernah meminta tuk menanti, Ia mengambil kesempatan, itulah keberanian. Atau relakan sekalian, itulah pengorbanan.
Ali ibn Abi Talib
Merdeka (?)

I was suppose to post this 6 days ago.

Mengaku “Bertumpah darah satu, Tanah air Indonesia”. Lebih betah mana, tinggal di Indonesia apa pas liburan ke luar negeri?
Mengaku “Berbangsa satu, Bangsa Indonesia”. Nyanyi Indonesia Raya brp kali setahun? Nyanyi lagu Barat/Korea/dll brp kali sehari?
Mengaku “Berbahasa satu, Bahasa Indonesia”. Ngucapin “Happy Birthday Indonesia!” atau “Happy Independence Day!”, itu bahasa apa?

Kalo ada moment kayak gini jadi banyak yg doain Indonesia. Kemarin2 kemana?
"Semoga ga makin banyak korupsi ya". Kalo ujian/nugas, nyontek/nyalin ga?
"Semoga makin baik ya, makin maju ya". Pas pemerintah bikin kebijakan baru yg (mungkin) buat kemajuan bangsa, didukung apa didemo?

Emang bagus ngedoain, toh selemah-lemahnya iman adalah dengan mendoakan. Tapi yakin gamau ngelakuin yg lebih buat bangsa sendiri?
Ngerasa blm mampu ngapa-ngapain? Masih merasa kecil? Sob, dari yg terkecil sekalipun bisa berdampak BESAR bila dilakukan dgn ikhlas!
Mulai deh dari hal2 simple. Ujian ga nyontek, buang sampah ga sembarangan, ga nerobos lampu merah. Kelihatannya sepele, tapi dampaknya, WIH!

Mulailah dengan tidak hanya berharap, tapi LAKUKAN! Jangan hanya di mulut, tapi juga AKSI! 

#HUTRI68 #DirgahayuIndonesia

Kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

Para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci. Meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

- Tere Liye, “Negeri di Ujung Tanduk” -
Zwei

10 Mei 2013.

Ya, sudah terlewati selama 2 bulan aku berada di jalan juang ini. Jalan juang yang mengharuskanku lebih peka terhadap perasaan orang lain, memahami kondisi hati seseorang, lebih dewasa dan bijaksana dalam menghadapi suatu persoalan, lebih mengenal karakteristik berbagai orang dan bagaimana menyikapinya. Disinilah aku belajar banyak hal, dan tidak bosan-bosannya aku mengucapkan terima kasih kepada kalian yang telah mengajariku.

Memang, tidak selalu langkah kaki ini menuntunku di jalan aspal yang mulus. Seringkali, kerikil-kerikil bahkan lumpur pun aku lewati dalam jalan juang ini. Namun itulah proses. Proses pendewasaanku untuk mempersiapkan seorang Michael yang bisa membawa manfaat bagi sesama. Seorang yang bisa mengesampingkan kondisi emosinya disaat ada seseorang yang sedang berbagi keluhan. Seorang yang bisa membagi kebahagiannya disaat ada yang sedang bersedih. Seorang pengamat yang baik, pendengar yang baik, seorang yang dapat menjadi solusi.

Masih panjang jalanku kedepan, dan sudah harus dirintis dari sekarang. Untuk teman dan keluarga baruku, jangan bosan-bosanlah kalian mengajariku yang masih sedikit ilmu ini. Aku ingin bergerak bersama kalian.

Demi Tuhanku. Demi bangsaku. Dan demi agamaku.

Terima kasih, Kementerian Pengembangan Sumber Daya Manusia BEM KM UGM.

"Tapi mereka yang punya aspirasi memimpin, mula-mula harus belajar melayani." - Hideyoshi Toyotomi

image

10 Mei 2013, 06:45 AM

Gravity

"Hidup adalah pilihan". Ya, klise. Seringkali kita mendengar frase ini, sangat sering. Namun tak dapat dipungkiri kalau frase tersebut memang benar.

Suatu contoh sederhana, kedewasaan. Memang, pada dasarnya waktu untuk menuju “dewasa” setiap orang berbeda-beda. Bahkan untuk beberapa orang pun, yang seharusnya sudah bisa dikatakan berumur, belum bisa berpikir secara dewasa. Lantas, apa yang sudah bisa disebut dewasa? Jika aku ditanya seperti itu, pertanyaan tersebut akan saya kembalikan kepada penanya. Buatku, tolak ukur dewasa pada setiap orang, ya tergantung pada orang tersebut. Tidak selamanya dewasa bagi kita berarti dewasa pada orang lain, dan tidak selamanya dewasa orang lain, bagi kita itu dewasa.

Kembali ke konteks “pilihan”. Lantas bagaimana kalau kita memandang suatu pilihan dengan cara yang berbeda? Bagaimana kalau kita memandang pilihan, menjadi suatu jalan keharusan? Ambil contoh, bumi ini. Kita akan selamanya terikat oleh gravitasi, tidak bebas, tertanam pada permukaan bumi dan tak kan lepas. Namun, kita akan bebas menikmati surganya, energinya, alamnya, semua. Atau, kita pergi ke batas atmosfer, lepas dari gravitasi, terbang bebas di angkasa luar tanpa terikat apapun. Tapi apa bisa kita hidup di angkasa luar tanpa sesuatu yang hanya ada di dalam atmosfer, oksigen? Contoh, pilihan yang menyebabkan kita tidak bisa untuk memilih. Terkadang, memang ada hal yang sekilas terlihat seperti kita dapat memilih, namun kembali pada hukum alam, yang memang sudah seharusnya terjadi, pasti akan terjadi, bagaimana pun intervensinya.

8 Maret 2013, 06:56 PM

1/3 Malam

11 Februari 2013. Akhirnya liburanku berakhir. Ya, hari ini hari pertama aku kembali masuk kuliah dan menduduki di semester 4. dan Alhamdulillah, puji syukur pada-Nya tanggal 10 pun telah lewat. Betapa ku melaknat tanggal ini. Tanggal yg selalu kuberusaha menghindari sejak 12 tahun yg lalu. Ada apa di tanggal itu akan jadi lain cerita, mungkin suatu nanti akan kuceritakan.

Malam ini, selesai ku bertahajud pada-Nya, kembali keresahan dalam hati bergejolak. ‘Harta, tahta, wanita’, anugerah terindah manusia, namun bisa menjerumuskan ke sedalam-dalamnya kenistaan. Malam ini, ‘tahta’ lah keresahan terbesar dalam hati.

Tahta. Sudah sejak Januari lalu topik ini menyerang batin. Sore itu, aku berbincang dengan seorang sahabat, satu lembaga, satu departemen, yg kebetulan saat ini telah menjabat sebagai Kepala Departemen. Berbincang tentang persoalan-persoalan yg dihadapi departemen, lembaga, maupun kampus, baik internal maupun eksternal. Menyampaikan keluh kesah, pendapat, saran serta kritik. Di akhir pembicaraan, tanpa kuduga sedikitpun dari awal, dia memintaku untuk menduduki salah satu jabatan Pengurus Harian dalam departemen-ku, Departemen Sosial Masyarakat, sebagai PH Internal. Setengah mati aku kaget mendengarnya. Dan dia hanya memberikan waktu berpikir hingga waktu Isya. Kupergunakan waktu itu sebaik mungkin. Memikirkan pro-kontra yg ada di setiap pilihannya. Bertanya pada sahabat-sahabat lain pendapat mereka. Alhasil, aku pun mengatakan ‘ya’ untuk amanah yg diberikan tersebut. Hingga saat ini, sebenarnya masih sangatlah takut hati ini untuk mengembannya. Kontra berdatangan, dari pihak yg tak setuju aku mengambil amanah tersebut, begitu pula yg Pro. Dari diriku sendiri pun aku tak sampai hati percaya aku mampu. Masih banyak kekurangan diri, penataan hati, manajemen waktu, dan kekurangan lainnya. Hanya saja, aku tak mau mengecewakan departemenku, lembagaku, sahabatku. Cukuplah dalam tulisan ini aku mengeluh, menyumpah, dan memuntahkan keresahan dalam hati ini. Akan (coba) kujalani amanah ini, sebaik-baiknya, setulus-tulusnya, seikhlas-ikhlasnya atas nama Allah Yang Maha Pemberi, lagi Maha Pemberi Petunjuk. Barakallah…

 

"Tidak ada diantara harta, tahta dan wanita yang memiliki pengaruh negatif kepada orang baik. Hanya orang yang salah sikap yang bisa jatuh dari ketiga faktor ini, karena kesalahan sikap akan membatalkan semua keberhasilan."

11 Februari 2013, 03:24 AM (Repost at 11:28 AM)

#Welcoming2013

Terima kasih untuk Tuhanku, Allah swt, Maha Guru-ku, Maha Pengampun-ku, yg telah menghidupkanku, mendidikku hingga menjadikanku yg sekarang.

Terima kasih untuk agamaku, Islam, yg telah memberikan arti dalam hidupku, nafasku, dalam setiap detak jantungku.

Terima kasih untuk ibuku, seorang luar biasa yg telah berjuang seorang diri sejak aku masih duduk di bangku SD.

Terima kasih untuk keluarga baruku, keluarga yg benar-benar menghembuskan nafas hidup baru untukku di bumi Jogja ini, BEM KMFT UGM.

Terima kasih, untuk seluruh sahabatku, yg senantiasa saling mendukung satu sama lain, serta pembangkit semangat dikala jatuh.

Terima kasih, terima kasih Tuhan, untuk surga duniamu yg terlalu indah ini. Terima kasih telah menghidupkanku di bumi Indonesia.

Sekarang, saatnya menyongsong 2013 dengan bismillah, menyusun resolusi kedepan dan senantiasa berusaha menghidupkan asma2-Nya, serta lebih gencar menyongsong cita-cita.

Bismillah, ya Allah, senantiasa ingatkan aku akan-Mu, tegur aku jika aku sudah mulai berpaling dari-Mu.

Bismillah, melebarkan sayap jauh lebih lebar, meningkatkan batasan diri melewati zona nyaman, dengan harapan perbaikan diri dan pengalaman tak tergantikan.

Bismillah, menjadi calon insinyur yg tetap teguh akan keyakinan pengabdian untuk Indonesia, bukan hanya mengharap materi.

Bismillah, lebih berbakti pada orangtua. Walaupun jarak terbentang jauh, namun masih diberi kesempatan utk berbakti kepadanya.

Bismillah, menjadi terpelajar yg bijaksana sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.

Bismillah, bisa lebih meredam dan mengontrol emosi diri, menerima pendapat dan kritikan yg lain, dapat memimpin dan dipimpin.

Bismillah, lebih bijak dalam berfikir, bertutur kata, bertindak, bahkan dlm gerik. Menjadi insan yg senantiasa dapat dicontoh.

Bismillah, bukan hanya belajar belajar dan belajar, tapi juga sudah mulai mencipta.

Bismillah, bisa memproporsionalkan waktu untuk akademik, organisasi, rekreasi, dan istirahat. Me-manajemen waktu dengan baik.

Bismillah, menjadi kakak yg mengopeni, teman yg mendengarkan, sahabat yg supportif, rekan yg membangun, insan yg amanah.

Terakhir, Bismillah ir-Rahman ir-Rahim, Insya Allah menjadi calon suami idaman :’D


Selamat tinggal 2012, stay forever in mind. Bismillah ir-Rahman ir-Rahim 2013

#BestMemories2012 #Welcoming2013

This is my 2nd family

"IDEALISME KAMI


Betapa inginnya kami

Agar bangsa ini mengetahui

Bahwa mereka lebih kami cintai

Daripada diri kami sendiri

Kami berbangga

Ketika jiwa-jiwa kami gugur

Sebagai penebus bagi kehormatan mereka.

Jika memang tebusan itu yang diperlukan

Atau menjadi harga

Bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan

Dan terwujudnya cita-cita mereka.

Jika memang itu harga yang harus dibayar.

Tiada sesuatu

Yang membuat kami bersikap seperti ini

Selain rasa cinta

Yang telah mengharu-biru hati kami

Menguasai perasaan kami

Memeras habis air mata kami

Dan mencabut rasa ingin tidur

Dari pelupuk mata kami

Betapa berat rasa di hati

Ketika kami menyaksikan bencana

Yang mencabik-cabik bangsa ini

Sementara kita hanya menyerah pada kehinaan

Dan pasrah oleh keputusasaan

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui

Bahwa kami membawa misi bersih dan suci

Bersih dari ambisi pribadi

Bersih dari kepentingan dunia

Dan bersih dari hawa nafsu

Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia

Tidak mengharap harta atau imbalan lainnya

Tidak juga popularitas

Apalagi sekedar ucapan terima kasih

Yang kami harap adalah

Terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat

Serta kebaikan dari Allah, Pencipta alam semesta”


- Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada


Hari Jum’at kemarin (08/12), secara resmi, anggota BEM KMFT UGM yg baru saja menempuh masa OpRec telah sepenuhnya menjadi bagian keluarga besar BEM KMFT UGM. Senang tentunya, “keluarga” ini menjadi tambah meriah, bertambah lagi insan-insan yg siap memberikan kontribusinya untuk Teknik tercinta, terlebih lagi untuk masyarakat. Di sisi lain, muncul lah perasaan: “Siapkah aku untuk menjadi kakak bagi mereka?”. Ya, memang itu yg ku rasakan. Masih banyak kekuranganku, masih tumpul pola pikirku, masih lemah caraku dalam mengontrol pribadiku. Lantas, apa yg bisa kuberikan pada mereka?

Beberapa pekan lalu, aku turut menyaksikan ForGa (Forum Keluarga) salah satu departemen. Disana aku melihat, betapa antusias dan inisiatifnya mereka. Berbagai tugas yg sebelumnya diberikan kepada mereka, entah itu berkunjung ke Rektorat lah, Gelanggang Mahasiswa lah, apa lah, semuanya terselesaikan dan terlihat sekali keniatan dan semangat mereka yg berapi-api. Dibandingkan mereka, bagaimana denganku sendiri? Aku juga masih ingat, betapa ku bahagia saat dulu aku mendapati di posisi mereka, namun sekarang? Betapa ku sangat merindukan kembali semangat berapi-api seperti itu. Tapi bukankah ini akan menjadi cambuk yg baik bagiku? Mungkin bukan hanya bagiku, tapi kalian yg membaca jg. Bukankah banyak kasus hal seperti ini? Euphoria yg dirasakan saat pertama kali terjun di tempat yg kita idam-idamkan, namun seiring berjalannya waktu, euphoria itu pun menghilang. Mari coba kita ingat-ingat bagaimana perasaan bahagia tiada tara itu, tak perlu membandingkan ekspektasi kita terdahulu dengan realita yg ada. Tapi coba ciptakan ekspektasi/idealita kita tersebut dipadukan dengan realita tempat kita sekarang, maka Utopia lah yg akan tercipta :)

Back to topic, jadi inilah, tempat yg untuk sekarang ini, menjadi rumah kedua bagiku di bumi Yogyakarta. Harapanku, dengan anggota keluarga baru lagi, judul “Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik” tidak hanya sebuah nama, namun benar-benar menjadi sebuah “keluarga” yg sinergis dan harmonis tanpa adanya fanatisme antar jurusan dan lembaga masing-masing.


Selamat datang keluarga baru, selamat berkontribusi bagi bumi Teknik, untuk Indonesia :)

Keluarga baru BEM KMFT UGM