10 Mei 2013.
Ya, sudah terlewati selama 2 bulan aku berada di jalan juang ini. Jalan juang yang mengharuskanku lebih peka terhadap perasaan orang lain, memahami kondisi hati seseorang, lebih dewasa dan bijaksana dalam menghadapi suatu persoalan, lebih mengenal karakteristik berbagai orang dan bagaimana menyikapinya. Disinilah aku belajar banyak hal, dan tidak bosan-bosannya aku mengucapkan terima kasih kepada kalian yang telah mengajariku.
Memang, tidak selalu langkah kaki ini menuntunku di jalan aspal yang mulus. Seringkali, kerikil-kerikil bahkan lumpur pun aku lewati dalam jalan juang ini. Namun itulah proses. Proses pendewasaanku untuk mempersiapkan seorang Michael yang bisa membawa manfaat bagi sesama. Seorang yang bisa mengesampingkan kondisi emosinya disaat ada seseorang yang sedang berbagi keluhan. Seorang yang bisa membagi kebahagiannya disaat ada yang sedang bersedih. Seorang pengamat yang baik, pendengar yang baik, seorang yang dapat menjadi solusi.
Masih panjang jalanku kedepan, dan sudah harus dirintis dari sekarang. Untuk teman dan keluarga baruku, jangan bosan-bosanlah kalian mengajariku yang masih sedikit ilmu ini. Aku ingin bergerak bersama kalian.
Demi Tuhanku. Demi bangsaku. Dan demi agamaku.
Terima kasih, Kementerian Pengembangan Sumber Daya Manusia BEM KM UGM.
“Tapi mereka yang punya aspirasi memimpin, mula-mula harus belajar melayani.” - Hideyoshi Toyotomi

10 Mei 2013, 06:45 AM
Tolong… Aku takut…
“Hidup adalah pilihan”. Ya, klise. Seringkali kita mendengar frase ini, sangat sering. Namun tak dapat dipungkiri kalau frase tersebut memang benar.
Suatu contoh sederhana, kedewasaan. Memang, pada dasarnya waktu untuk menuju “dewasa” setiap orang berbeda-beda. Bahkan untuk beberapa orang pun, yang seharusnya sudah bisa dikatakan berumur, belum bisa berpikir secara dewasa. Lantas, apa yang sudah bisa disebut dewasa? Jika aku ditanya seperti itu, pertanyaan tersebut akan saya kembalikan kepada penanya. Buatku, tolak ukur dewasa pada setiap orang, ya tergantung pada orang tersebut. Tidak selamanya dewasa bagi kita berarti dewasa pada orang lain, dan tidak selamanya dewasa orang lain, bagi kita itu dewasa.
Kembali ke konteks “pilihan”. Lantas bagaimana kalau kita memandang suatu pilihan dengan cara yang berbeda? Bagaimana kalau kita memandang pilihan, menjadi suatu jalan keharusan? Ambil contoh, bumi ini. Kita akan selamanya terikat oleh gravitasi, tidak bebas, tertanam pada permukaan bumi dan tak kan lepas. Namun, kita akan bebas menikmati surganya, energinya, alamnya, semua. Atau, kita pergi ke batas atmosfer, lepas dari gravitasi, terbang bebas di angkasa luar tanpa terikat apapun. Tapi apa bisa kita hidup di angkasa luar tanpa sesuatu yang hanya ada di dalam atmosfer, oksigen? Contoh, pilihan yang menyebabkan kita tidak bisa untuk memilih. Terkadang, memang ada hal yang sekilas terlihat seperti kita dapat memilih, namun kembali pada hukum alam, yang memang sudah seharusnya terjadi, pasti akan terjadi, bagaimana pun intervensinya.
8 Maret 2013, 06:56 PM
Sampai pada saatnya aku benar-benar dibutuhkan, dan kalian merasa aku harus ada, aku akan menghilang, melihat kalian dari kejauhan.
2 Maret 2013, 05:11 PM
Pernahkah kalian merasa ketika kalian telah memberikan segala untuk apa yg kalian cintai, apapun itu, seseorang, sesuatu, hobi, bahkan… organisasi, namun semua itu seakan hilang, tidak dihargai, bahkan dianggap tidak pernah ada? Lantas untuk apa itu semua? Nihil kah? Atau memang ada sesuatu yg salah? Yang memberikan? Yang diberikan? Malam ini kuberdiam sejenak, memikirkan apa yg telah kulakukan selama ini. Akankah sia2 semua selama satu tahun terakhir ini?
Wahai engkau, yang tak bisa, atau tak mau menghargai, jawablah! Jeritan ini bukanlah hanya sebuah muntahan yang tinggal dibuang dan dibersihkan! Kalau memang percuma, buat apa tinggal? Pernah kau merasa rasanya jadi terasingkan? Terjauhkan dari koloninya, terjauhkan dari afeksi dan simpati.
“Sometimes you have to be your own hero, because sometimes, the people you can’t live without, can live without you.”
- Unknown
25 Februari 2013, 11:49 PM
11 Februari 2013. Akhirnya liburanku berakhir. Ya, hari ini hari pertama aku kembali masuk kuliah dan menduduki di semester 4. dan Alhamdulillah, puji syukur pada-Nya tanggal 10 pun telah lewat. Betapa ku melaknat tanggal ini. Tanggal yg selalu kuberusaha menghindari sejak 12 tahun yg lalu. Ada apa di tanggal itu akan jadi lain cerita, mungkin suatu nanti akan kuceritakan.
Malam ini, selesai ku bertahajud pada-Nya, kembali keresahan dalam hati bergejolak. ‘Harta, tahta, wanita’, anugerah terindah manusia, namun bisa menjerumuskan ke sedalam-dalamnya kenistaan. Malam ini, ‘tahta’ dan ‘wanita’ lah keresahan terbesar dalam hati.
Tahta. Sudah sejak Januari lalu topik ini menyerang batin. Sore itu, aku berbincang dengan seorang sahabat, satu lembaga, satu departemen, yg kebetulan saat ini telah menjabat sebagai Kepala Departemen. Berbincang tentang persoalan-persoalan yg dihadapi departemen, lembaga, maupun kampus, baik internal maupun eksternal. Menyampaikan keluh kesah, pendapat, saran serta kritik. Di akhir pembicaraan, tanpa kuduga sedikitpun dari awal, dia memintaku untuk menduduki salah satu jabatan Pengurus Harian dalam departemen-ku, Departemen Sosial Masyarakat, sebagai PH Internal. Setengah mati aku kaget mendengarnya. Dan dia hanya memberikan waktu berpikir hingga waktu Isya. Kupergunakan waktu itu sebaik mungkin. Memikirkan pro-kontra yg ada di setiap pilihannya. Bertanya pada sahabat-sahabat lain pendapat mereka. Alhasil, aku pun mengatakan ‘ya’ untuk amanah yg diberikan tersebut. Hingga saat ini, sebenarnya masih sangatlah takut hati ini untuk mengembannya. Kontra berdatangan, dari pihak yg tak setuju aku mengambil amanah tersebut, begitu pula yg Pro. Dari diriku sendiri pun aku tak sampai hati percaya aku mampu. Masih banyak kekurangan diri, penataan hati, manajemen waktu, dan kekurangan lainnya. Hanya saja, aku tak mau mengecewakan departemenku, lembagaku, sahabatku. Cukuplah dalam tulisan ini aku mengeluh, menyumpah, dan memuntahkan keresahan dalam hati ini. Akan (coba) kujalani amanah ini, sebaik-baiknya, setulus-tulusnya, seikhlas-ikhlasnya atas nama Allah Yang Maha Pemberi, lagi Maha Pemberi Petunjuk. Barakallah…
Wanita. Haha, tertawa aku dalam hati. Bisa-bisanya hal ini menjadi keresahanku malam ini. Apa guna keyakinanku awal semester 3 lalu untuk tulus, fokus dalam penataan diri, dan pengabdianku untuk bangsaku? Sudah kuyakinkan diriku untuk tidak fokus dalam hal yg satu ini. Namun, jika hati sudah berkata lain, apa daya aku telah dibuat resah olehnya? Memang, baru 3 bulan aku mengenalnya; dari sebuah event besar dari konsentrasi kuliahku, salah satu cita-citaku yg namun kandas ditengah jalan. Bahkan baru kira-kira 2 minggu aku mulai dekat. Aneh? Tentu. Betapa bergejolak hati ini hanya karena seorang bidadari yg diciptakan dari tulang rusuk pendahuluku. Ya Allah, ada apa dengan hati ini? Mengapa terbelokkan keyakinanku untuk fokus dulu dalam diriku? Ataukah memang kau tunjukkan ia sebagai belokan yg akan meluruskanku di jalan yg sebenarnya benar? Berserah diri ku kepada-Mu Ya Rabb, atas segala keputusan-Mu untuk menuntunku, hamba-Mu yg senantiasa mengharap petunjuk arah pada-Mu. Jika memang ia seseorang yg Kau tunjuk untuk membawaku kearah yg lebih baik, maka dekatkanlah. Namun apabila tidak, maka jauhkanlah sejauh-jauhnya dariku. Maha Engkau atas segala petunjuk-Mu.
“Tidak ada diantara harta, tahta dan wanita yang memiliki pengaruh negatif kepada orang baik. Hanya orang yang salah sikap yang bisa jatuh dari ketiga faktor ini, karena kesalahan sikap akan membatalkan semua keberhasilan.”
11 Februari 2013, 03:24 AM (Repost at 11:28 AM)
Terima kasih untuk Tuhanku, Allah swt, Maha Guru-ku, Maha Pengampun-ku, yg telah menghidupkanku, mendidikku hingga menjadikanku yg sekarang.
Terima kasih untuk agamaku, Islam, yg telah memberikan arti dalam hidupku, nafasku, dalam setiap detak jantungku.
Terima kasih untuk ibuku, seorang luar biasa yg telah berjuang seorang diri sejak aku masih duduk di bangku SD.
Terima kasih untuk keluarga baruku, keluarga yg benar-benar menghembuskan nafas hidup baru untukku di bumi Jogja ini, BEM KMFT UGM.
Terima kasih, untuk seluruh sahabatku, yg senantiasa saling mendukung satu sama lain, serta pembangkit semangat dikala jatuh.
Terima kasih, terima kasih Tuhan, untuk surga duniamu yg terlalu indah ini. Terima kasih telah menghidupkanku di bumi Indonesia.
Sekarang, saatnya menyongsong 2013 dengan bismillah, menyusun resolusi kedepan dan senantiasa berusaha menghidupkan asma2-Nya, serta lebih gencar menyongsong cita-cita.
Bismillah, ya Allah, senantiasa ingatkan aku akan-Mu, tegur aku jika aku sudah mulai berpaling dari-Mu.
Bismillah, melebarkan sayap jauh lebih lebar, meningkatkan batasan diri melewati zona nyaman, dengan harapan perbaikan diri dan pengalaman tak tergantikan.
Bismillah, menjadi calon insinyur yg tetap teguh akan keyakinan pengabdian untuk Indonesia, bukan hanya mengharap materi.
Bismillah, lebih berbakti pada orangtua. Walaupun jarak terbentang jauh, namun masih diberi kesempatan utk berbakti kepadanya.
Bismillah, menjadi terpelajar yg bijaksana sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.
Bismillah, bisa lebih meredam dan mengontrol emosi diri, menerima pendapat dan kritikan yg lain, dapat memimpin dan dipimpin.
Bismillah, lebih bijak dalam berfikir, bertutur kata, bertindak, bahkan dlm gerik. Menjadi insan yg senantiasa dapat dicontoh.
Bismillah, bukan hanya belajar belajar dan belajar, tapi juga sudah mulai mencipta.
Bismillah, bisa memproporsionalkan waktu untuk akademik, organisasi, rekreasi, dan istirahat. Me-manajemen waktu dengan baik.
Bismillah, menjadi kakak yg mengopeni, teman yg mendengarkan, sahabat yg supportif, rekan yg membangun, insan yg amanah.
Terakhir, Bismillah ir-Rahman ir-Rahim, Insya Allah menjadi calon suami idaman :’D
Selamat tinggal 2012, stay forever in mind. Bismillah ir-Rahman ir-Rahim 2013
#BestMemories2012 #Welcoming2013
“IDEALISME KAMI
Betapa inginnya kami
Agar bangsa ini mengetahui
Bahwa mereka lebih kami cintai
Daripada diri kami sendiri
Kami berbangga
Ketika jiwa-jiwa kami gugur
Sebagai penebus bagi kehormatan mereka.
Jika memang tebusan itu yang diperlukan
Atau menjadi harga
Bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan
Dan terwujudnya cita-cita mereka.
Jika memang itu harga yang harus dibayar.
Tiada sesuatu
Yang membuat kami bersikap seperti ini
Selain rasa cinta
Yang telah mengharu-biru hati kami
Menguasai perasaan kami
Memeras habis air mata kami
Dan mencabut rasa ingin tidur
Dari pelupuk mata kami
Betapa berat rasa di hati
Ketika kami menyaksikan bencana
Yang mencabik-cabik bangsa ini
Sementara kita hanya menyerah pada kehinaan
Dan pasrah oleh keputusasaan
Kami ingin agar bangsa ini mengetahui
Bahwa kami membawa misi bersih dan suci
Bersih dari ambisi pribadi
Bersih dari kepentingan dunia
Dan bersih dari hawa nafsu
Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia
Tidak mengharap harta atau imbalan lainnya
Tidak juga popularitas
Apalagi sekedar ucapan terima kasih
Yang kami harap adalah
Terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat
Serta kebaikan dari Allah, Pencipta alam semesta”
- Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada
Hari Jum’at kemarin (08/12), secara resmi, anggota BEM KMFT UGM yg baru saja menempuh masa OpRec telah sepenuhnya menjadi bagian keluarga besar BEM KMFT UGM. Senang tentunya, “keluarga” ini menjadi tambah meriah, bertambah lagi insan-insan yg siap memberikan kontribusinya untuk Teknik tercinta, terlebih lagi untuk masyarakat. Di sisi lain, muncul lah perasaan: “Siapkah aku untuk menjadi kakak bagi mereka?”. Ya, memang itu yg ku rasakan. Masih banyak kekuranganku, masih tumpul pola pikirku, masih lemah caraku dalam mengontrol pribadiku. Lantas, apa yg bisa kuberikan pada mereka?
Beberapa pekan lalu, aku turut menyaksikan ForGa (Forum Keluarga) salah satu departemen. Disana aku melihat, betapa antusias dan inisiatifnya mereka. Berbagai tugas yg sebelumnya diberikan kepada mereka, entah itu berkunjung ke Rektorat lah, Gelanggang Mahasiswa lah, apa lah, semuanya terselesaikan dan terlihat sekali keniatan dan semangat mereka yg berapi-api. Dibandingkan mereka, bagaimana denganku sendiri? Aku juga masih ingat, betapa ku bahagia saat dulu aku mendapati di posisi mereka, namun sekarang? Betapa ku sangat merindukan kembali semangat berapi-api seperti itu. Tapi bukankah ini akan menjadi cambuk yg baik bagiku? Mungkin bukan hanya bagiku, tapi kalian yg membaca jg. Bukankah banyak kasus hal seperti ini? Euphoria yg dirasakan saat pertama kali terjun di tempat yg kita idam-idamkan, namun seiring berjalannya waktu, euphoria itu pun menghilang. Mari coba kita ingat-ingat bagaimana perasaan bahagia tiada tara itu, tak perlu membandingkan ekspektasi kita terdahulu dengan realita yg ada. Tapi coba ciptakan ekspektasi/idealita kita tersebut dipadukan dengan realita tempat kita sekarang, maka Utopia lah yg akan tercipta :)
Back to topic, jadi inilah, tempat yg untuk sekarang ini, menjadi rumah kedua bagiku di bumi Yogyakarta. Harapanku, dengan anggota keluarga baru lagi, judul “Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik” tidak hanya sebuah nama, namun benar-benar menjadi sebuah “keluarga” yg sinergis dan harmonis tanpa adanya fanatisme antar jurusan dan lembaga masing-masing.
Selamat datang keluarga baru, selamat berkontribusi bagi bumi Teknik, untuk Indonesia :)

Hari ini, aku membaca sebuah post menarik di salah satu blog seseorang. Awalnya tak sengaja, tertarik dengan judulnya yg membahas tentang “integritas”.
Integritas? Ya, integritas. Sebenarnya, apasih makna kata yg sering terngiang-ngiang di kalangan mahasiswa ini? Bahkan aku sendiri pun belum mampu untuk menjawabnya. Yang membuatnya menarik, adalah apa yg ia bawa dalam tulisannya: “Kesombongan”.
Integritas dengan kesombongan? Apa relasi antara keduanya? Sekali lagi, aku pun belum mampu untuk menjawabnya. Tapi mungkin, hanya mungkin, integritas akan dikaitkan dengan jabatan yg seseorang miliki, dan akan memiliki kecenderungan untuk menjadikannya berlaku sombong. “Penagih Integritas”, itulah notaben yg diberikannya untukku. Ya, dari awal aku sadar post itu memang ditujukan untukku.
Lantas apa yg membuatku terkejut? Secara tidak kusadari, ternyata memang itulah yg kulakukan selama ini. Secara tidak sadar, ternyata aku seakan gila dengan kedudukan, ingin selalu merasa terpandang dan dilihat oleh orang-orang, suka akan pujian, dan merasa takut diremehkan. Benar saja, aku bertanya pada salah seorang sahabat, ia pun sependapat dengan apa yg kupikirkan. Lantas, selama ini apa yg kuperbuat? Mencari kedudukan sajakah? Ingin merasa terpandang kah? Tidak bisa dipungkiri memang sudah sifat dasar manusia untuk minta diperhatikan, terlihat di kalangan. Namun, terkadang godaan duniawi tidak sampai melewati akal sehat dan masuk ke dalam rongga hati terdalam. Untukku pribadi, bukanlah seperti itu yg kuinginkan, kawan. Khilaf? Bisa jadi. Untuk insan yg belum menginjak tahap “dewasa”, tentu masih banyak yg harus kupelajari.
Inspiratif. Hanya itu yg bisa kukatakan. Satu lagi refleksi diri yg harus kulakukan. Tulisan beliau benar-benar membuatku berpikir bagaimana pandangan orang-orang selama ini terhadapku. Mungkin telah salah, hingga Allah pun menegurku seperti ini. Nauzubillahi min zalik…
”Aku berlindung kepada-MU dari datangnya kesombongan yang tiba tiba”
Pada akhirnya, aku mencoba untuk memulai menulis lagi. Rasanya malas, tentu. Karena pada dasarnya aku bukanlah pribadi yg menyenangi bidang literatur. Namun aku sadar, karena tulisanlah seseorang dapat hidup untuk selamanya.
“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”
Rasa syukur terbesarku untuk Tuhanku, Dzat yang senantiasa menyayangiku, mendukungku, mengajariku, mendengarkan keluh kesahku, dan tanpa putus-putusnya memberiku nikmat kehidupan. Dan telah mengizinkanku untuk kembali menulis. Ialah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mungkin terlihat seperti membual, apalagi mengingat aku yg tidak suka menulis. Namun, kawan, apalah arti hidup kalau kita tidak mau mencoba dan membebaskan diri dari perangkap “kenyamanan”? Pada intinya, aku berharap tulisanku tak akan putus sampai disini, dan nantinya, tulisan-tulisan inilah yang akan menjadi bukti aku pernah hidup, dan menjadi inspirasi banyak orang.
Siapakah aku ini? Aku bernama Michael. Ya, hanya Michael, tak ada nama belakang, disebabkan oleh ayah yang mentelantarkan aku beserta ibu dan adikku. Saat ini, aku hanyalah seorang mahasiswa biasa, perantau dari Jakarta di sebuah universitas di bumi Yogyakarta. Aku aktif di berbagai organisasi dan kepanitiaan yg ada di kampus, karena ibuku selalu mendidikku untuk tidak hanya menuntut ilmu akademik, namun juga aktif diluar akademik. Aku tergolong anak yg masih manja, kekanak-kanakan, belum mampu untuk menstabilkan emosi dan pikiran. Aku hidup masih bergantung pada hasil jerih payah ibuku, yg berjuang seorang diri, menjadi single-parent selama belasan tahun. Keseharianku hampir sama dengan mahasiswa-mahasiswa lain pada umumnya, belajar, main, aktif organisasi. Tidak ada yg spesial? Tidak ada yg tidak spesial dalam setiap alur kehidupan di setiap helainya :) Setidaknya, itu menurut pendapatku.
Secara garis besar, mungkin itulah gambaran diriku saat ini. Masih belum bisa berkontribusi banyak untuk bangsa, negara, terlebih lagi untuk orangtua dan agamaku. Pencarianku masih jauh. Siapakah aku? Apa takdirku? Semua itu masih menjadi misteri Tuhan. Dan sudah sewajarnyalah untukku mencari jawabannya :)
Tak terasa tangan ini terus menulis (mengetik) di malam yg sejuk ini. Inikah kenikmatan dalam menulis? Walaupun terkadang berat untuk menuangkan isi pikiran kita dan apa yg harus tertuliskan. Ini akan jadi tantangan bagiku untuk kedepannya, aku harap aku masih terus bisa melakukannya untuk kedepannya.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”